Hai, aku seorang gadis yang terlahir dari keluarga yang lengkap secara kasat mata. Ya, aku memiliki bapak, aku punya ibu, dan dua adik perempuan. Mungkin kalian membayangkan hidupku yang....ya mungkin terlihat baik-baik saja. Karena memang aku tak menceritakan keluargaku ke semua orang. Aku harap setelah kalian tau keluargaku tak kan ada yang merubah pandangan kalian terhadapku, itulah secuil harapanku tiap kali aku bercerita kepada teman dekatku.
Adik pertamaku lahir pada Desember 2003. Aku memang mendambakan seorang adik lucu sejak dulu. Dan aku amat sangat bersyukur dia dilahirkan ke dunia ini. Bapak dan ibu tak pernah membedakan kami walaupun usia kami terpaut 6 tahun. Ya, jarak usia yang tak sedikit. Aku ingat, ketika itu aku masih kelas 2 sd. Sepulang sekolah aku hanya meletakkan tasku lalu mencari adikku kemanapun dia pergi. Entah di depan rumah, rumah simbah, rumah tetangga, kemanapun. Aku selalu merindukan adik kecilku itu. Adikku sangat lucu walaupun pendiam. Dia tidak rewel dan menyebalkan seperti anak anak lain. Hingga suatu ketika Allah mengambil kebahagiaanku itu.
Suatu hari ketika aku libur sekolah, aku sedang mengendarai sepedaku menuju rumah. Aku melihat si mbak, pengasuh adikku, sedang berlari panik sambil menggendong adikku yang sudah lemas. Wajahnya panik dan hampir menangis. Ternyata adikku kejang-kejang, dan aku tak tau harus berbuat apa. Kami membawa adikku ke rumah simbah yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah. Adikku sempat meminum 3 sendok air sebelum akhirnya lemas tak berdaya. Hatiku hancur sekali melihatnya pucat. Aku ingin menangis, tapi tak bisa. Aku ke wartel untuk menelfon bapak diantar oleh tetanggaku. Aku tak habis pikir ketika om ku tidak mau membawa adikku ke rumah sakit dengan alasan menunggu bapak. Dan pada akhirnya semuanya terlambat, adikku menghembuskan nafas terakhirnya di perjalanan menuju rumah sakit. Saat itu, aku hanya menunggu dirumah, aku dan si mbak solat bersama. Aku menangis, aku takut adik kecilku kesakitan. Lalu bapak dan om pulang lerumah membawa adikku yang sudah terbujur kaku. Aku tak bisa membendung lagi, tangisku tumpah. Emosiku meluap, aku berteriak memanggil adikku dan memeluk jasadnya. Tak lama kemudian ibuku pulang. Keadaannya sama hancurnya denganku. Ibuku keluar dari mobil dan berlari memelukku. Ibuku bilang, kalau aku sayang adik aku tidak boleh menangis lagi. Cukup cium keningnya lalu tidak boleh menunjukkan air mataku lagi dihadapannya. Akupun melakukannya, dan memeluknya sekali lagi. Di pemakaman, hatiku kembali hancur. Sangat hancur. Aku berfikir, apa dia tidak ketakutan di bawah sana? Siapa yang akan menemani adik kecilku itu Ya Allah?
Hari-hariku kosong semenjak itu. Ibuku pun lebih sering melamun. Hanya bapak yang bisa terlihat tegar. Sebagai seorang anak kelas 2 sd, dalam keadaan seperti itu tak ada yang benar benar menghiburku. Semua terlarut dalam kesedihan masing-masing. Aku masih shock karna semua terjadi tiba-tiba. Yang kuketahui waktu itu adikku tersedak lalu kejang-kejang. Sungguh sesuatu yang sangat menyayat hati. Kesedihanku bertambah ketika si mbak berhenti bekerja, mungkin karna rasa bersalah yang amat dalam. Hari-hari kulalui dengan hampa. Walaupun aku mulai ikhlas, tapi tetap aku merasa semuanya telah berubah. Sampai suatu hari ibu dan bapak memberi tahu bahwa aku akan punya adik lagi.
Juli 2006 adik keduaku lahir. Dari sebelum persalinan memang ibuku sudah menyiapkan pengasuh baru yanv merupakan tetanggaku sendiri. Aku memanggilnya budhe. Budhe sangat sayang kepada adikku hingga akupun terkadang dilarang menyentuhnya. Aku sayang kepada adikku, namun karena perlakuan istimewa orang-orang kepada adikku membuatku tak nyaman. Aku tau, perbedaan usia kami jauh, 8 tahun. Tapi apa tak pernah mereka memikirkan perasaan dan mental anak usia 8 tahun jika selalu merasa terbuang? Adikku suka rewel dan terkadang aku mengusilinya. Dia sangat manja karena semua keinginannya terpenuhi tanpa ada filter. Ketika adikku beranjak umur 2 tahun aku makin tak nyaman dengan perlakuan orang-orang di sekitarku. Ketika adikku menangis ibu dan budhe selalu meneriakiku dan menuduhku mengganggunya. Padahal aku dan adikku sedang berada di ruang yang berbeda. Dari situ aku mulai menahan rasa sakit hati. Ya, seorang anak berumur 10 tahun yang penuh dendam adalah iren yang dulu hehehe. Untuk menyembunyikan rasa kesal dan marah tiap kali berinteraksi dengan adikku, aku mulai cuek padanya. Aku tak ingin berdebat dengan ibuku, karna jujur aku selalu takut ketika ibuku marah. Ibuku adalah tipe wanita yang mudah meledak-ledak emosinya. Aku takut teriakannya, bahkan sampai sekarang aku masih menangis jika ibuku marah walaupun umurku sudah 20 tahun hehe. Memasuki usia 4 tahun adikku mulai bersekolah dan budhe masih bertahan menjadi pengasuhnya karna saking sayangnya. Waktu itu aku sudah SMP. Ketika libur sekolah aku sering ingin menjemput adikku. Ya, walau sedikit, aku masih suka peduli kepadanya. Namun, diluar dugaan budhe tak pernah mengijinkanku. Dia bilang, adikku tak akan mau pulang jika aku yang menjemput. Sakit hati? Tidak lagi. Aku mulai muak. Aku mengadu ke ibu. Tapi apa? Ibu membenarkan itu semua. Aku pun mulai membuang adikku dari daftar orang terdekat. Jahat? Entah. Aku hanya terlalu sakit dengan kalimat kalimat itu. Dan akupun tak bisa bercerita kepada siapapun. Adikku juga mulai bandel karna terlalu dimanja. Tugasku tak jarang dirusaknya. Aku tau jarak usia kami jauh, i'm freaking know that. Tapi tolong, apa tak ada yang bisa menjaga perasaanku sedikit saja? Ibu, luka kita sama. Kehilangan juga membuatku terpuruk dan trauma. Andai kau tau betapa hancurnya aku saat menerima perlakuanmu? Aku tak mempunyai siapapun untuk bersandar.
Kini usiaku 20 tahun dan adikku 12 tahun. Kami tak pernah bertehur sapa selain bertengkar. Ibu selalu marah dan mengatakan kalau stres melihat kelakuan kami. Dan lagi-lagi karna aku lebih tua akulah yang paling disalahkan disini. Adikku tumbuh menjadi preibadi yang menyebalkan. Dia selalu lancang masuk ke kamarku dan mencuri barang-barangku. Barang yang mungkin aku harus menabung untuk membelinya. Atau aku menahan lapar agar bisa mendapatkannya. Dia juga pernah mengisi sepatuku dengan sampah. Dan menyebar sampah di kamarku ketika aku tidak dirumah. Ketika aku marah dia mengadu ke ibu agar ibu memarahiku. Padahal, demi ibu aku masih mau menjemputnya ke sekolah, mengurusnya ketika ibu tidak dirumah. Semua kulakukan karna aku ingin berbakti kepada ibu dan bapak, bukan lagi karna aku peduli padanya. Inilah bu, hasil dari perlakuan itu. Buah dari apa yang ibu tanam dahulu. Semakin kami dewasa semakin kami sering bertengkar. Ketika aku tinggal di kos pun tak pernah sekali saja aki merindukannya. Aku tak tau kenapa tapi itulah yang aku rasakan. Mungkin hatiku sudah terlalu mati untuk bisa menyayangi. Maaf bu, aku bukan menyalahkan ibu, aku juga merasa aku salah membencinya. Tapi semua itu sudah mengakar di hatiku. Maafkan aku tal bisa menjadi apa yang ibu mau. Ketika ibu berkata aku akan menyia nyiakan ibu dan bapak ketika aku dewasa, semua itu takkan terjadi. Emosiku yang meluap2 seperti ibu adalah hasil dari penglihatanku di masa lalu. Yang melihat ibu marah dan meledak2. Aku yang membangkang adalah hasil dari ketidak berdayaanku dahulu menyampaikan apa yang aku rasakan. Maafkan aku yang tidak tumbuh menjadi anak yang baik ibu. Aku hanya ingin suatu saat menemukan orang yang bisa membuatku merasa berharga.
Adik pertamaku lahir pada Desember 2003. Aku memang mendambakan seorang adik lucu sejak dulu. Dan aku amat sangat bersyukur dia dilahirkan ke dunia ini. Bapak dan ibu tak pernah membedakan kami walaupun usia kami terpaut 6 tahun. Ya, jarak usia yang tak sedikit. Aku ingat, ketika itu aku masih kelas 2 sd. Sepulang sekolah aku hanya meletakkan tasku lalu mencari adikku kemanapun dia pergi. Entah di depan rumah, rumah simbah, rumah tetangga, kemanapun. Aku selalu merindukan adik kecilku itu. Adikku sangat lucu walaupun pendiam. Dia tidak rewel dan menyebalkan seperti anak anak lain. Hingga suatu ketika Allah mengambil kebahagiaanku itu.
Suatu hari ketika aku libur sekolah, aku sedang mengendarai sepedaku menuju rumah. Aku melihat si mbak, pengasuh adikku, sedang berlari panik sambil menggendong adikku yang sudah lemas. Wajahnya panik dan hampir menangis. Ternyata adikku kejang-kejang, dan aku tak tau harus berbuat apa. Kami membawa adikku ke rumah simbah yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah. Adikku sempat meminum 3 sendok air sebelum akhirnya lemas tak berdaya. Hatiku hancur sekali melihatnya pucat. Aku ingin menangis, tapi tak bisa. Aku ke wartel untuk menelfon bapak diantar oleh tetanggaku. Aku tak habis pikir ketika om ku tidak mau membawa adikku ke rumah sakit dengan alasan menunggu bapak. Dan pada akhirnya semuanya terlambat, adikku menghembuskan nafas terakhirnya di perjalanan menuju rumah sakit. Saat itu, aku hanya menunggu dirumah, aku dan si mbak solat bersama. Aku menangis, aku takut adik kecilku kesakitan. Lalu bapak dan om pulang lerumah membawa adikku yang sudah terbujur kaku. Aku tak bisa membendung lagi, tangisku tumpah. Emosiku meluap, aku berteriak memanggil adikku dan memeluk jasadnya. Tak lama kemudian ibuku pulang. Keadaannya sama hancurnya denganku. Ibuku keluar dari mobil dan berlari memelukku. Ibuku bilang, kalau aku sayang adik aku tidak boleh menangis lagi. Cukup cium keningnya lalu tidak boleh menunjukkan air mataku lagi dihadapannya. Akupun melakukannya, dan memeluknya sekali lagi. Di pemakaman, hatiku kembali hancur. Sangat hancur. Aku berfikir, apa dia tidak ketakutan di bawah sana? Siapa yang akan menemani adik kecilku itu Ya Allah?
Hari-hariku kosong semenjak itu. Ibuku pun lebih sering melamun. Hanya bapak yang bisa terlihat tegar. Sebagai seorang anak kelas 2 sd, dalam keadaan seperti itu tak ada yang benar benar menghiburku. Semua terlarut dalam kesedihan masing-masing. Aku masih shock karna semua terjadi tiba-tiba. Yang kuketahui waktu itu adikku tersedak lalu kejang-kejang. Sungguh sesuatu yang sangat menyayat hati. Kesedihanku bertambah ketika si mbak berhenti bekerja, mungkin karna rasa bersalah yang amat dalam. Hari-hari kulalui dengan hampa. Walaupun aku mulai ikhlas, tapi tetap aku merasa semuanya telah berubah. Sampai suatu hari ibu dan bapak memberi tahu bahwa aku akan punya adik lagi.
Juli 2006 adik keduaku lahir. Dari sebelum persalinan memang ibuku sudah menyiapkan pengasuh baru yanv merupakan tetanggaku sendiri. Aku memanggilnya budhe. Budhe sangat sayang kepada adikku hingga akupun terkadang dilarang menyentuhnya. Aku sayang kepada adikku, namun karena perlakuan istimewa orang-orang kepada adikku membuatku tak nyaman. Aku tau, perbedaan usia kami jauh, 8 tahun. Tapi apa tak pernah mereka memikirkan perasaan dan mental anak usia 8 tahun jika selalu merasa terbuang? Adikku suka rewel dan terkadang aku mengusilinya. Dia sangat manja karena semua keinginannya terpenuhi tanpa ada filter. Ketika adikku beranjak umur 2 tahun aku makin tak nyaman dengan perlakuan orang-orang di sekitarku. Ketika adikku menangis ibu dan budhe selalu meneriakiku dan menuduhku mengganggunya. Padahal aku dan adikku sedang berada di ruang yang berbeda. Dari situ aku mulai menahan rasa sakit hati. Ya, seorang anak berumur 10 tahun yang penuh dendam adalah iren yang dulu hehehe. Untuk menyembunyikan rasa kesal dan marah tiap kali berinteraksi dengan adikku, aku mulai cuek padanya. Aku tak ingin berdebat dengan ibuku, karna jujur aku selalu takut ketika ibuku marah. Ibuku adalah tipe wanita yang mudah meledak-ledak emosinya. Aku takut teriakannya, bahkan sampai sekarang aku masih menangis jika ibuku marah walaupun umurku sudah 20 tahun hehe. Memasuki usia 4 tahun adikku mulai bersekolah dan budhe masih bertahan menjadi pengasuhnya karna saking sayangnya. Waktu itu aku sudah SMP. Ketika libur sekolah aku sering ingin menjemput adikku. Ya, walau sedikit, aku masih suka peduli kepadanya. Namun, diluar dugaan budhe tak pernah mengijinkanku. Dia bilang, adikku tak akan mau pulang jika aku yang menjemput. Sakit hati? Tidak lagi. Aku mulai muak. Aku mengadu ke ibu. Tapi apa? Ibu membenarkan itu semua. Aku pun mulai membuang adikku dari daftar orang terdekat. Jahat? Entah. Aku hanya terlalu sakit dengan kalimat kalimat itu. Dan akupun tak bisa bercerita kepada siapapun. Adikku juga mulai bandel karna terlalu dimanja. Tugasku tak jarang dirusaknya. Aku tau jarak usia kami jauh, i'm freaking know that. Tapi tolong, apa tak ada yang bisa menjaga perasaanku sedikit saja? Ibu, luka kita sama. Kehilangan juga membuatku terpuruk dan trauma. Andai kau tau betapa hancurnya aku saat menerima perlakuanmu? Aku tak mempunyai siapapun untuk bersandar.
Kini usiaku 20 tahun dan adikku 12 tahun. Kami tak pernah bertehur sapa selain bertengkar. Ibu selalu marah dan mengatakan kalau stres melihat kelakuan kami. Dan lagi-lagi karna aku lebih tua akulah yang paling disalahkan disini. Adikku tumbuh menjadi preibadi yang menyebalkan. Dia selalu lancang masuk ke kamarku dan mencuri barang-barangku. Barang yang mungkin aku harus menabung untuk membelinya. Atau aku menahan lapar agar bisa mendapatkannya. Dia juga pernah mengisi sepatuku dengan sampah. Dan menyebar sampah di kamarku ketika aku tidak dirumah. Ketika aku marah dia mengadu ke ibu agar ibu memarahiku. Padahal, demi ibu aku masih mau menjemputnya ke sekolah, mengurusnya ketika ibu tidak dirumah. Semua kulakukan karna aku ingin berbakti kepada ibu dan bapak, bukan lagi karna aku peduli padanya. Inilah bu, hasil dari perlakuan itu. Buah dari apa yang ibu tanam dahulu. Semakin kami dewasa semakin kami sering bertengkar. Ketika aku tinggal di kos pun tak pernah sekali saja aki merindukannya. Aku tak tau kenapa tapi itulah yang aku rasakan. Mungkin hatiku sudah terlalu mati untuk bisa menyayangi. Maaf bu, aku bukan menyalahkan ibu, aku juga merasa aku salah membencinya. Tapi semua itu sudah mengakar di hatiku. Maafkan aku tal bisa menjadi apa yang ibu mau. Ketika ibu berkata aku akan menyia nyiakan ibu dan bapak ketika aku dewasa, semua itu takkan terjadi. Emosiku yang meluap2 seperti ibu adalah hasil dari penglihatanku di masa lalu. Yang melihat ibu marah dan meledak2. Aku yang membangkang adalah hasil dari ketidak berdayaanku dahulu menyampaikan apa yang aku rasakan. Maafkan aku yang tidak tumbuh menjadi anak yang baik ibu. Aku hanya ingin suatu saat menemukan orang yang bisa membuatku merasa berharga.
Komentar
Posting Komentar